: bu utit
kita tak pernah percaya pada sebuah perpisahan
sampai kita bertemu dengan sebuah perjumpaan
lalu kita bersepakat untuk bersekutu
dalam ruang dan waktu yang sama
jarum jam itu tak pernah lupa mencatat
berapa kali kita berputar memijaki angkaangkanya
memunguti detikdetiknya untuk kita rangkai menjadi bunga
(tidakkah kau mencium harumnya setiap kali membuka pintu ruangan itu?)
jarum jam itu masih saja berputar mencatat daundaun kalender
yang berguguran menjadi bilanganbilangan usia yang selalu
kita ingat jumlahnya tapi lupa di mana menyimpan bunga
bunga yang pernah kita rangkai bersama
lalu kita sibuk mencaricari di tetumpuk berkasberkas
di kolongkolong meja kerja di dalam lacilaci ingatan
sementara senja memendar dari kaca jendela ruang kerja kita
mengingatkan kita pada sebuah perpisahan
tapi kita tak pernah percaya pada sebuah perpisahan, bukan?
Balai Pustaka, 30 april 2008

0 komentar:
Posting Komentar